Magicfinger’s Blog

May 20, 2009

Segitiga

Filed under: Uncategorized — adhityo galih wicaksono @ 1:31 pm

Aku jatuh cinta untuk kesekian kali, namun baru kali ini kurasakan cinta sesungguhnya, tak seperti dulu…

Cinta ketiga ini seperti yang pertama untukku…

kali ini benar-benar menjiwai di hatiku…

Ia datang tak hanya dengan lidah tapi dengan Hati yang terdalam membuatku tak kuasa menahan tetes air mataku…

Ketika cinta ini membuka hatiku dengan sinar-sinar ajaibnya dan menyentuh jiwaku untuk pertama kali dengan jari-jemarinya. Cinta ini menyampaikan rahasia cinta dengan segenap perasaan hatimu…dan mengubah kesendirianku menjadi saat-saat bahagia serta memenuhi keheningan malam-malamku dengan canda tawa suaramu…

Aku terbenam jauh kedalam pikiran dan mencoba merenungkan betapa mulianya yang kuasa mau menghadirkan hatimu ke dalam hatiku, berkenan menemani jiwaku dengan jiwamu…dan tak terbayangkan jika ku terpisah jauh darimu, betapa hancur dan harunya hidupku…

Kamu adalah bidadari dari jantung hatiku yang memenuhi dengan segala rahasia dan berbagi kehidupan serta membuatku memahami makna kehidupan, ketika kau menuntun hidupku…

akan kutumpahkan seluruh daya pada cinta ini..dan akan setia selamanya hidup di hatiku…karena Aku Sayang Kamu…

Cinta ketiga ini benar-benar menyentuh hatiku…semua sikapmu, canda tawa suaramu, harum nafas aroma tubuhmu melekat di inderaku…

Aku sayang kamu, tapi tak akan terlalu memeluk erat jiwamu kalau nantinya kamu akan tersesak…aku sayang kamu setulus hatiku, tak akan ternoda oleh cinta palsu…

Aku sayang kamu, karena hanya kamu yang mampu membuat hatiku menangis..aku sayang kamu, selama-lamanya semoga tak akan hilang terhempas oleh waktu..aku sayang kamu, karena aku sayang kamu dan bibir ini tak mampu berikan alasannya, karena hanya hatiku yang mampu menjawabnya…

Aku merasa mengenal kamu sejak dahulu, tapi ada entah dimana, apa mungkin jiwa kita pernah bersatu di kehidupan yang lalu…tapi semua itu tetap membuatku bersyukur atas nikmat takdirNya, betapa mulianya yang kuasa menghadirkan Mahadewi dalam hidupku..tak akan pernah hilang dari hati ini…

Kamulah sang mentari dalam kegelapan hatiku…

Kamulah udara dalam sesak nafasku…

Kamulah butiran embun dalam kering jiwaku…

Semoga hatiku dan hatimu tetap bersatu..selamanya. Dan dengan segala petunjukNya untuk menuntun hati kita untuk selalu bersama selamanya…

semoga hatimu tidak tersesak dengan semua isi hatiku…

Aku Sayang Kamu…

May 2, 2009

Artis dan Parpol . We must, Sceptics, Kritis atau Apatis… ?

Filed under: Uncategorized — adhityo galih wicaksono @ 7:21 am

Kajian tentang politik senantiasa dihadapkan pada realita kehidupan organisasi Negara (pemerintahan) karena jalan organisasi Negara selalu diwarnai dengan aktivitas politik untuk mengatur kehidupan Negara, proses pencapaian tujuan Negara, dan melaksanakan tujuan Negara sebaik-baiknya. Oleh karena itu permasalahan politik biasanya lebih terfokus pada “kekuasaan”.

Untuk mencapai tingkat kekuasaan tertentu, diperlukan partai politik sebagai sarana/alatnya. Partai politik adalah sekelompok manusia yang terorganisasi secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintah bagi pimpinan partainya sehingga penguasaan itu memberikan manfaat kepada anggota partainya baik yang bersifat ideal maupun material (Miriam Budiarjo : 2005)

Indonesia merupakan Negara demokrasi yang menggunakan sistem multi partai. Dalam situasi perpolitikan nasional saat ini terbuka luas peluang bagi setiap partai politik mana saja untuk bersaing dan menjadi partai yang menguasai jumlah suara terbanyak pada pemilu tahun 2009 nanti.

Untuk mencapai semua itu, setiap partai politik perlu melakukan berbagi usaha dan strategi guna mewujudkan tujuan dan harapannya untuk memperoleh kekuasaannya tersebut, pada perjalanannya sebuah partai politik hanyalah mempertimbangkan image atau citra yang akan dibangun untuk memperoleh simpati masyarakat umum atau bahkan sampai mempengaruhi konstituen maupun calon konstituen dari partai tersebut.

Ada fenomena baru yang terjadi lima tahun belakang ini, dimulai dari pemilu tahun 2004 silam, personal yang dijadikan sebagai komunikator politik oleh suatu parpol untuk membangun citra dan memperoleh simpati massa, sekarang tidak lagi hanya dari insan politik yang memang benar-benar murni ”lahir” dari dunia politik, tetapi mulai merambah kepada figur artis yang dijadikan ”alat penarik massa” untuk menjadi anggota konstituen partai tersebut

Ditandai dengan perekrutan figur populer dari kalangan artis dan pelaku dunia hiburan tersebut, fenomena ini secara kasat mata mudah diduga sebagai strategi partai politik untuk meraih dukungan publik dalam pemilu. Tapi perlu dikritisi apakah ada motif-motif lainnya dibalik “ramai-ramainya” artis terjun kedunia politik.

Strategi ini bukan hanya menguntungkan parpol, tapi juga memberikan peluang kepada kalangan artis untuk duduk di lembaga perwakilan, apalagi jika partai politik memberlakukan sistem penentuan calon terpilih berdasarkan suara terbanyak.

Dalam proses pencalegan ini, ada titik temu antara kepentingan parpol di satu sisi dengan kepentingan artis untuk meraih cita-cita politik. Parpol membutuhkan figur yang mampu menarik pendukung, sedangkan alasan artis terjun ke dunia politik mungkin untuk mengembalikan popularitasnya atau bahkan hanya karena materi semata, inilah yang menyebabkan demokrasi berpotensi melahirkan pejabat-pejabat politik yang hanya memiliki popularitas tinggi dalam masyarakat, tetapi tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas yang memadai. Padahal jika kapasitas tersebut tidak dimiliki, maka struktur-struktur negara yang diamanatkan kepada mereka tidak akan dapat bergerak secara optimal untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Ini adalah cacat bawaan demokrasi yang kalau disikapi dengan benar sesungguhnya masih bisa dicegah agar tidak benar-benar terjadi.

Alasan-alasan tersebut perlu kita kritisi karena keberadaan artis dalam kancah politik tanah air pada nantinya juga akan berpengaruh pada kekuasaan di negri ini.

Jadi, bagaimana menurut anda…?

April 29, 2009

Ketika aku merasa menjadi orang yang paling benar, kenapa semuanya terasa begitu salah.

Filed under: Uncategorized — adhityo galih wicaksono @ 11:17 am

Ketika ku terbenam jauh kedalam hatiku…
Butakan mataku..semua tentang keindahan
Membingungkan Jiwa ini..tersesat dipersimpangan jalan
Begitu banyak cinta yang menyapa,
Bimbangkan Hati..dan tak mampu ku memilihnya

Kini ku berharap Malaikat datang kepadaku,
dan ia berkenan mengeluarkanku dari Lingkaran ini…
untuk sekedar menyelamatkan cinta-cinta itu…
tuntunlah Jiwa dan Hatiku ini…

Merangkai semua tanya,
yang sesak terkumpul diHati…
semua tentang perasaan itu…
apa yang kini sedang kuhadapi,
membuat Jiwaku resah tak terkendali…
Bimbang itu terus merajai…
(Women Version)
………………..

Lihatlah lebih dekat…
dan kau akan pahami segalanya
tuntunlah Hatimu, jangan biarkan ego merajai
Mengertilah..pahami arti ini
Berikan makna pada arti ini

Lihatlah lebih dekat…
dan kau akan pahami perasaan Hati ini
Jiwa yang rapuh luruh mendamba keajaiban Cinta…
untuk sekedar melipurkan rindu,
menyelamatkan Hati…

Tanpa ilalang, yang ada hanya anyelir
tak akan menutupi pandanganmu…
mungkin akan membawamu ke tempat yang lebih baik
Lihatlah lebih dekat..Aku Mencintaimu
(Man Version)
…………….

Dalam hidup selalu terdapat dua pilihan
yang baik atau yang kurang baik,
tergantung dari bagaimana kita menyikapinya…

Antara kebenaran dan kesalahan,
mungkin dapat dibedakan…
tapi keduanya tidak dapat dinilai,
siapa yang lebih baik…

Aku hanya ingin mencapai keseimbangan diantara keduanya…
antara hari ini maupun kemarin
antara saat ini ataupun esok nanti
antara hitam dan putih
antara baik dan buruk
antara perasaan dengan keinginan
antara harapan dengan kenyataan
semoga ku dapat mencapai keseimbangan…
(Both of us version)
…………………..

Aku selalu berjalan sendiri…
kenapa mereka tak pernah mengerti…
aku yang diam disini pun jadi tak mengerti,
apa yang sebenarnya kucari…
kenapa ku hanya menanti keajaiban datang padaku…

Ditempat ini..ku terdiam kehilangan arah
tanpa ada yang mampu menghampiri,
walau untuk sekedar mencoba mengerti…

Ketika aku merasa menjadi orang yang paling benar,
kenapa semuanya terasa begitu salah
Aku tidak pernah tahu apa yang kucari,
sampai mereka benar-benar bisa mengerti… libra

Perempuan

Filed under: Uncategorized — adhityo galih wicaksono @ 10:40 am

Hadirnya dirimu adalah sebuah kebenaran…
Menjadi belahan jiwa dari kaum sang Adam…
Hatimu sebening embun yang hanya dapat disentuh, oleh ketulusan…

Ada garis yang membentuk di atas padang pasir,
Lalu hancur hilang tak beratur, tersapu badai…
Tapi kamu sebagai Perempuan yang selalu tertindas,
Masih berdiri kokoh disini, menatap kedepan…

(dedicated to R.A Kartini and her people…) kartini

Bagaimanakah seharusnya kita berpikir kritis filosofis…?

Filed under: Uncategorized — adhityo galih wicaksono @ 9:31 am

Dalam konteks partikular, dimanapun itu baik di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi, filsafat dalam dunia akademik seringkali dipakai kedalam materi yang diajarkan, biasanya dihubungkan juga dengan teologi, psikologi, ilmu hukum, ilmu sejarah, ilmu bahasa, kesusastraan, dan humaniora. Dimana disitu akan diajarkan eksistensi dan esensi dari manusia (Ontologi), diajarkan bagaimana keteraturan alam (Kosmolgi) dan diajarkan mengenai mattery and mind (Antropologi) dimana ketiganya adalah termasuk kedalam metafisika (The Study of Being as Such) yang pada dasarnya adalah bagian dari filsafat.

Ajaran filsafat lain yang paling menjadi acuan dalam dunia akademik dan dunia sosial juga adalah bagaimana cara kita beretika dan berestetika. Didalam etika kita akan diajarkan semacam filsafat moral tentang nilai (Judgment of Value) dan kewajiban (Judgment of Obligation) yang hanya berisi tentang yang mana yang baik dan yang tidak baik, sedangkan didalam estetika kita akan belajar menelaah tentang nilai seni (Art) dan keindahan (Beauty) yang berisi tentang yang indah atau tidak indah. Kesemuanya ini termasuk kedalam Norm yang berbentuk Carpenter’s Square dimana kalau sudah mencapai tahap yang lebih tinggi kita akan selalu belajar dan berusaha bagaimana cara bergramatika (Berbicara yang sistematis yang subjek dan objeknya jelas), belajar beretorika (The art of using language effectively) dan belajar bagaimana cara kita berlogika (The art and knowledge of correct thinking).

Dalam kehidupan remaja saat ini, sudah sangat minim sekali fungsi filsafat dan logika digunakan. Remaja saat ini (Terutama dalam lingkungan pergaulan yang saya tahu) sudah banyak sekali remaja yang kehilangan eksistensi dan esensinya. Usia remaja memang merupakan satu fase dari perkembangan anak yang cukup menyenangkan sekaligus rawan. Karena, pada fase ini seseorang anak akan tumbuh dan berkembang secara fisik dan psikologis memasuki pintu ambang dewasa. Tak berlebihan jika pada masa ini, remaja dihadapkan pada kehidupan baru yang sebelumnya belum pernah dialami. Ia akan mengenal apa yang biasa disebut ‘pertama kali’ mengenal cinta (Pacaran), alkohol, narkotika, rokok, dan tanggung jawab pertama sebagai ‘orang dewasa’. Bahayanya, di tengah gaya hidup hedonis seperti sekarang ini, remaja nyaris tanpa kendali hanyut dalam gaya hidup sebuah dunia baru yang dipaksa tumbuh lebih cepat dari sebelumnya. Kenyataan itu tidak lepas dari pengaruh kebudayaan global (Barat) lewat TV dan internet yang sangat meng-influence, sampai tanpa sadar dan bahkan dengan senang hati, kaum muda di belahan dunia manapun mengikuti tren gaya hidup Amerika yang sangat hedonis (Urban Society). Tidak berlebihan jika gaya hidup remaja Indonesia kemudian sungguh merisaukan para orang tua, karena tidak sedikit remaja Indonesia yang memakai tato di tubuhnya, bermusik rock ‘n roll, memakai baju merk-merk luar negeri, mengecat rambutnya, piercing, dan gaya hidup hedonis lainnya. Memang, hal itu sah-sah saja. Tetapi persoalannya akan muncul ketika semua itu hanya dipahami sekadar mengikuti tren gaya hidup dan sekedar mencontoh sang idola (Where the essence of east people ?). Ketika seorang remaja tidak berpikir secara kritis filosofis saat mengikuti tren dan budaya barat itulah, satu pangkal kekeliruan yang mendasar. Apalagi jika sampai mereka tidak mau mengkritisi akan baik dan buruknya budaya itu dengan adat ketimuran kita (So, that is reason why, philosophy and logic very important for life society). Dunia sekarang memang tak ubahnya sebuah desa kecil (Global Village) yang tanpa batas, sehingga kebudayaan global kaum muda Amerika dengan gaya hidup hedonis dan konsumeris merasuki pula gaya hidup remaja Indonesia. Tidak salah jika sebagian kaum muda (Anak Gaul) Indonesia, kini diidentikan dengan kaum hedonis Amerika dengan ciri hidup matrealistis (Yang menginginkan kesenangan) dengan cara apapun yang tanpa aturan, tanggung jawab dan tanpa tujuan hidup yang jelas. Hidup hanya dijalani untuk senang-senang, nongkrong, main gitar, pacaran, dan tidak mau memperjuangngkan sebuah idealisme. Anehnya, semua tindakan itu ternyata tidak dilandasi dengan pemikiran logis dan filosofis, hanya sekedar mengikuti tren dan tidak mau ketinggalan zaman belaka.

Pada akhirnya ‘the conclusion of philosophy is’ Filsafat adalah sebagai ilmu yang telah lama dikembangkan oleh para pemikir di berbagai belahan dunia dalam rangka memahami dan memaknai kehidupan. Problem-problem kehidupan dan kemanusiaan yang datang terus-menerus membutuhkan jawaban. Problem itu yang memacu perkembangan ilmu filsafat, terlebih ketika memasuki era global yang dengan mudahnya komunikasi dan perpindahan ide, gagasan, dan budaya dari satu wilayah ke wilayah lain. Pertemuan budaya, ideologi, dan agama tidak lagi bisa dihindarkan. Para filsuf telah menyumbangkan pengabdiannya untuk memberikan jalan pemecahan demi kemajuan umat manusia, terbukti banyak tokoh internasional yang dengan basis filsafat telah memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, agama, pemerintahan, pendidikan, dan karya seni, pengetahuan filsafat yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, keagamaan, dan profesionalitas melalui kemampuan pemahaman dan pemaknaan akan kehidupan. Bertumpu pada hasil pemikiran para filsuf diharapkan akan muncul individu hasil didik yang bijak dan bahagia dalam mengarungi kehidupan tentunya juga dengan cara berpikir yang logis dan jangan sampai menimbulkan ‘Contradictio Interminis’.

Jadi, Bagaimanakah seharusnya kita berpikir kritis filosofis…?

wayang_budaya_indonesia

Hello world!

Filed under: Uncategorized — adhityo galih wicaksono @ 8:57 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Theme: Banana Smoothie. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.