Dalam konteks partikular, dimanapun itu baik di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi, filsafat dalam dunia akademik seringkali dipakai kedalam materi yang diajarkan, biasanya dihubungkan juga dengan teologi, psikologi, ilmu hukum, ilmu sejarah, ilmu bahasa, kesusastraan, dan humaniora. Dimana disitu akan diajarkan eksistensi dan esensi dari manusia (Ontologi), diajarkan bagaimana keteraturan alam (Kosmolgi) dan diajarkan mengenai mattery and mind (Antropologi) dimana ketiganya adalah termasuk kedalam metafisika (The Study of Being as Such) yang pada dasarnya adalah bagian dari filsafat.
Ajaran filsafat lain yang paling menjadi acuan dalam dunia akademik dan dunia sosial juga adalah bagaimana cara kita beretika dan berestetika. Didalam etika kita akan diajarkan semacam filsafat moral tentang nilai (Judgment of Value) dan kewajiban (Judgment of Obligation) yang hanya berisi tentang yang mana yang baik dan yang tidak baik, sedangkan didalam estetika kita akan belajar menelaah tentang nilai seni (Art) dan keindahan (Beauty) yang berisi tentang yang indah atau tidak indah. Kesemuanya ini termasuk kedalam Norm yang berbentuk Carpenter’s Square dimana kalau sudah mencapai tahap yang lebih tinggi kita akan selalu belajar dan berusaha bagaimana cara bergramatika (Berbicara yang sistematis yang subjek dan objeknya jelas), belajar beretorika (The art of using language effectively) dan belajar bagaimana cara kita berlogika (The art and knowledge of correct thinking).
Dalam kehidupan remaja saat ini, sudah sangat minim sekali fungsi filsafat dan logika digunakan. Remaja saat ini (Terutama dalam lingkungan pergaulan yang saya tahu) sudah banyak sekali remaja yang kehilangan eksistensi dan esensinya. Usia remaja memang merupakan satu fase dari perkembangan anak yang cukup menyenangkan sekaligus rawan. Karena, pada fase ini seseorang anak akan tumbuh dan berkembang secara fisik dan psikologis memasuki pintu ambang dewasa. Tak berlebihan jika pada masa ini, remaja dihadapkan pada kehidupan baru yang sebelumnya belum pernah dialami. Ia akan mengenal apa yang biasa disebut ‘pertama kali’ mengenal cinta (Pacaran), alkohol, narkotika, rokok, dan tanggung jawab pertama sebagai ‘orang dewasa’. Bahayanya, di tengah gaya hidup hedonis seperti sekarang ini, remaja nyaris tanpa kendali hanyut dalam gaya hidup sebuah dunia baru yang dipaksa tumbuh lebih cepat dari sebelumnya. Kenyataan itu tidak lepas dari pengaruh kebudayaan global (Barat) lewat TV dan internet yang sangat meng-influence, sampai tanpa sadar dan bahkan dengan senang hati, kaum muda di belahan dunia manapun mengikuti tren gaya hidup Amerika yang sangat hedonis (Urban Society). Tidak berlebihan jika gaya hidup remaja Indonesia kemudian sungguh merisaukan para orang tua, karena tidak sedikit remaja Indonesia yang memakai tato di tubuhnya, bermusik rock ‘n roll, memakai baju merk-merk luar negeri, mengecat rambutnya, piercing, dan gaya hidup hedonis lainnya. Memang, hal itu sah-sah saja. Tetapi persoalannya akan muncul ketika semua itu hanya dipahami sekadar mengikuti tren gaya hidup dan sekedar mencontoh sang idola (Where the essence of east people ?). Ketika seorang remaja tidak berpikir secara kritis filosofis saat mengikuti tren dan budaya barat itulah, satu pangkal kekeliruan yang mendasar. Apalagi jika sampai mereka tidak mau mengkritisi akan baik dan buruknya budaya itu dengan adat ketimuran kita (So, that is reason why, philosophy and logic very important for life society). Dunia sekarang memang tak ubahnya sebuah desa kecil (Global Village) yang tanpa batas, sehingga kebudayaan global kaum muda Amerika dengan gaya hidup hedonis dan konsumeris merasuki pula gaya hidup remaja Indonesia. Tidak salah jika sebagian kaum muda (Anak Gaul) Indonesia, kini diidentikan dengan kaum hedonis Amerika dengan ciri hidup matrealistis (Yang menginginkan kesenangan) dengan cara apapun yang tanpa aturan, tanggung jawab dan tanpa tujuan hidup yang jelas. Hidup hanya dijalani untuk senang-senang, nongkrong, main gitar, pacaran, dan tidak mau memperjuangngkan sebuah idealisme. Anehnya, semua tindakan itu ternyata tidak dilandasi dengan pemikiran logis dan filosofis, hanya sekedar mengikuti tren dan tidak mau ketinggalan zaman belaka.
Pada akhirnya ‘the conclusion of philosophy is’ Filsafat adalah sebagai ilmu yang telah lama dikembangkan oleh para pemikir di berbagai belahan dunia dalam rangka memahami dan memaknai kehidupan. Problem-problem kehidupan dan kemanusiaan yang datang terus-menerus membutuhkan jawaban. Problem itu yang memacu perkembangan ilmu filsafat, terlebih ketika memasuki era global yang dengan mudahnya komunikasi dan perpindahan ide, gagasan, dan budaya dari satu wilayah ke wilayah lain. Pertemuan budaya, ideologi, dan agama tidak lagi bisa dihindarkan. Para filsuf telah menyumbangkan pengabdiannya untuk memberikan jalan pemecahan demi kemajuan umat manusia, terbukti banyak tokoh internasional yang dengan basis filsafat telah memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, agama, pemerintahan, pendidikan, dan karya seni, pengetahuan filsafat yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, keagamaan, dan profesionalitas melalui kemampuan pemahaman dan pemaknaan akan kehidupan. Bertumpu pada hasil pemikiran para filsuf diharapkan akan muncul individu hasil didik yang bijak dan bahagia dalam mengarungi kehidupan tentunya juga dengan cara berpikir yang logis dan jangan sampai menimbulkan ‘Contradictio Interminis’.
Jadi, Bagaimanakah seharusnya kita berpikir kritis filosofis…?
