Kajian tentang politik senantiasa dihadapkan pada realita kehidupan organisasi Negara (pemerintahan) karena jalan organisasi Negara selalu diwarnai dengan aktivitas politik untuk mengatur kehidupan Negara, proses pencapaian tujuan Negara, dan melaksanakan tujuan Negara sebaik-baiknya. Oleh karena itu permasalahan politik biasanya lebih terfokus pada “kekuasaan”.
Untuk mencapai tingkat kekuasaan tertentu, diperlukan partai politik sebagai sarana/alatnya. Partai politik adalah sekelompok manusia yang terorganisasi secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintah bagi pimpinan partainya sehingga penguasaan itu memberikan manfaat kepada anggota partainya baik yang bersifat ideal maupun material (Miriam Budiarjo : 2005)
Indonesia merupakan Negara demokrasi yang menggunakan sistem multi partai. Dalam situasi perpolitikan nasional saat ini terbuka luas peluang bagi setiap partai politik mana saja untuk bersaing dan menjadi partai yang menguasai jumlah suara terbanyak pada pemilu tahun 2009 nanti.
Untuk mencapai semua itu, setiap partai politik perlu melakukan berbagi usaha dan strategi guna mewujudkan tujuan dan harapannya untuk memperoleh kekuasaannya tersebut, pada perjalanannya sebuah partai politik hanyalah mempertimbangkan image atau citra yang akan dibangun untuk memperoleh simpati masyarakat umum atau bahkan sampai mempengaruhi konstituen maupun calon konstituen dari partai tersebut.
Ada fenomena baru yang terjadi lima tahun belakang ini, dimulai dari pemilu tahun 2004 silam, personal yang dijadikan sebagai komunikator politik oleh suatu parpol untuk membangun citra dan memperoleh simpati massa, sekarang tidak lagi hanya dari insan politik yang memang benar-benar murni ”lahir” dari dunia politik, tetapi mulai merambah kepada figur artis yang dijadikan ”alat penarik massa” untuk menjadi anggota konstituen partai tersebut
Ditandai dengan perekrutan figur populer dari kalangan artis dan pelaku dunia hiburan tersebut, fenomena ini secara kasat mata mudah diduga sebagai strategi partai politik untuk meraih dukungan publik dalam pemilu. Tapi perlu dikritisi apakah ada motif-motif lainnya dibalik “ramai-ramainya” artis terjun kedunia politik.
Strategi ini bukan hanya menguntungkan parpol, tapi juga memberikan peluang kepada kalangan artis untuk duduk di lembaga perwakilan, apalagi jika partai politik memberlakukan sistem penentuan calon terpilih berdasarkan suara terbanyak.
Dalam proses pencalegan ini, ada titik temu antara kepentingan parpol di satu sisi dengan kepentingan artis untuk meraih cita-cita politik. Parpol membutuhkan figur yang mampu menarik pendukung, sedangkan alasan artis terjun ke dunia politik mungkin untuk mengembalikan popularitasnya atau bahkan hanya karena materi semata, inilah yang menyebabkan demokrasi berpotensi melahirkan pejabat-pejabat politik yang hanya memiliki popularitas tinggi dalam masyarakat, tetapi tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas yang memadai. Padahal jika kapasitas tersebut tidak dimiliki, maka struktur-struktur negara yang diamanatkan kepada mereka tidak akan dapat bergerak secara optimal untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Ini adalah cacat bawaan demokrasi yang kalau disikapi dengan benar sesungguhnya masih bisa dicegah agar tidak benar-benar terjadi.
Alasan-alasan tersebut perlu kita kritisi karena keberadaan artis dalam kancah politik tanah air pada nantinya juga akan berpengaruh pada kekuasaan di negri ini.
Jadi, bagaimana menurut anda…?